Enam santri kelas 10 Thursina International Islamic Boarding School (IIBS) membawa pulang Gold Medal dari World Invention Competition and Exhibition (WICE) Malaysia 2026. Mereka adalah Ahmad Hakan Firastian, Falsafa Kalky Pahdepie, Meshal Avicenna, Fadhil Azzam Nareswara, Adhis Alvaro Safaraz Putra Ismawan, dan Muhammad Fazle Al Abrar Vebriansyah.
WICE 2026 merupakan ajang internasional yang mempertemukan pelajar, peneliti, dan inovator untuk mempresentasikan gagasan serta temuan mereka di hadapan komunitas global. Edisi kedelapan ini berlangsung di Kuala Lumpur pada 20-24 September 2026 melalui kolaborasi Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan SEGi University & Colleges.
Riset yang Berawal dari Kelas 9
Gold Medal tersebut diraih melalui hasil temuan yang berjudul ALGAEVA: A Microalgae-Based Photobioreactor for Sustainable Indoor Air Quality Improvement. Riset ini sudah dirancang saat keenam anggota tim masih duduk di kelas 9 SMP.
ALGAEVA berangkat dari persoalan kualitas udara di ruang tertutup, terutama potensi akumulasi karbon dioksida akibat ventilasi yang terbatas. Para santri kemudian menawarkan pendekatan biologis dengan memanfaatkan mikroalga yang secara alami melakukan fotosintesis, menyerap CO₂, dan menghasilkan oksigen.
Tim tidak langsung menentukan mikroalga yang akan digunakan. Chlorella vulgaris dan Spirulina (Arthrospira platensis) terlebih dahulu dibandingkan berdasarkan pertumbuhan biomassa, stabilitas kultur, aroma, homogenitas, sedimentasi, hingga kemampuan bertahan setelah proses kultivasi mengalami gangguan.
Hasil pengamatan menunjukkan Chlorella memiliki performa keseluruhan yang lebih baik dalam kondisi pengujian. Kultur ini menunjukkan perkembangan biomassa yang lebih tinggi, stabilitas yang lebih baik, serta kemampuan pemulihan inokulum yang lebih kuat dibandingkan Spirulina, sehingga dipilih sebagai komponen biologis utama ALGAEVA.
Pilihan tersebut kemudian diuji lebih jauh selama 14 hari. Pada pengamatan lanjutan, kultur Chlorella berubah semakin pekat hingga hijau tua, kepadatan biomassanya meningkat, dan gelembung mikro oksigen terlihat ketika aerator dihentikan sementara—indikasi visual yang mendukung berlangsungnya aktivitas fotosintesis.
Ketika Sains Bertemu Rekayasa
ALGAEVA tidak sekadar menempatkan mikroalga dalam sebuah wadah. Tim merancang fotobioreaktor berbahan akrilik dengan posisi vertikal, sistem sirkulasi airlift, LED grow light, serta sistem pemantauan kualitas udara berbasis MQ135, Arduino Nano, dan OLED display.
Sistem airlift bekerja dengan mendorong gelembung udara dari bagian bawah reaktor sehingga cairan terus bersirkulasi tanpa impeller mekanis. Mekanisme ini membantu menjaga mikroalga tetap tersuspensi sekaligus mendukung distribusi gas dan nutrisi di dalam kultur.
Menariknya, penelitian ini juga tidak berhenti pada pembuatan prototipe. Pengamatan pH kultur Chlorella menunjukkan kenaikan bertahap dari 5,49 pada hari kelima menjadi 6,49 pada hari ke-14, yang mendukung adanya aktivitas fotosintesis dan pengambilan CO₂ selama kultivasi.
Meski demikian, tim menyadari bahwa MQ135 yang digunakan masih berfungsi sebagai indikator umum kualitas udara, bukan sensor CO₂ khusus. Karena itu, penelitian selanjutnya diarahkan pada penggunaan sensor NDIR dan pengujian dalam ruang terkendali agar kemampuan biofiltrasi ALGAEVA dapat diukur lebih presisi.
Menumbuhkan Jiwa Peneliti Muda
Ustaz Helmi Pakas Rivai, M.Pd., pembina lomba, menyampaikan kebanggaannya terhadap kesungguhan para santri dalam menjalani proses penelitian.
“Saya sangat bangga atas capaian ini yang murni lahir dari passion, kerja keras, kekompakan tim, serta ambisi untuk memberikan hasil terbaik,” kata Ustaz Helmi.
Bagi Thursina IIBS, pengalaman tersebut menjadi bagian dari penerapan Holistic and Balanced Education Curriculum yang memberi ruang bagi santri untuk menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata. Budaya mengikuti kompetisi berskala internasional juga diarahkan agar santri terbiasa menguji gagasan, menerima perspektif baru, dan membawa karya mereka ke panggung global.
Gold Medal perdana ALGAEVA di WICE Malaysia akhirnya bukan hanya tentang sebuah medali. Ia menjadi bukti bahwa proses yang dimulai sejak kelas 9 dapat tumbuh menjadi karya ilmiah yang mengantarkan enam santri kelas 10 ke forum internasional. Capaian ini merefleksikan nilai Inspiring dalam RECODING.
Ustaz Helmi berharap pencapaian tersebut menjadi pijakan bagi prestasi yang lebih besar di masa mendatang.
“Semoga pengalaman riset ini membuat para santri semakin gemar belajar, terus mengembangkan potensinya, dan tumbuh sebagai pribadi yang semakin saleh,” pungkas Head of Department Professional CEO. (izz)






