Suara santri Thursina IIBS mengudara melalui 94,6 FM Pro 1 Radio Republik Indonesia (RRI) Malang pada Kamis (22/10/2026). Dalam Dialog Spesial Hari Santri Nasional 2026, Ustaz Syaikul Islam, S.Pd., Kepala Kaderisasi Ulama Thursina, bersama Fatih Firdaus, santri kelas 11, membahas peran santri dalam mewujudkan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.
Dipandu Argha Saputra, dialog tersebut menjadi ruang bagi santri untuk menyampaikan pandangan mengenai kontribusi generasi pesantren terhadap masyarakat dan bangsa. Pembahasan tidak berhenti pada identitas santri, tetapi diarahkan pada bagaimana ilmu, akhlak, dan prestasi dapat diterjemahkan menjadi kebermanfaatan.
Dari Pesantren ke Ruang Publik
Bagi Ustaz Syaikul Islam, dakwah tidak selalu berlangsung di masjid atau majelis ilmu. Siaran radio menjadi ruang lain bagi santri untuk menyampaikan gagasan keislaman sekaligus berbicara mengenai persoalan kebangsaan kepada masyarakat yang lebih luas.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari irisan program Kaderisasi Ulama. Menurutnya, ruang publik perlu diisi dengan suara generasi muda yang memiliki fondasi keilmuan dan nilai keislaman.
“Kehadiran Fatih sebagai santri dalam dialog tersebut sekaligus menunjukkan bahwa santri dapat mengambil peran dalam percakapan publik sejak berada di bangku sekolah,” terang Ustaz Syaikhul.
Pesan yang mengemuka dalam dialog adalah pentingnya mengubah pendidikan menjadi kontribusi. Santri tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi perlu memiliki keberanian untuk menggunakan ilmu tersebut dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan nilai Inspiring dalam RECODING. Santri didorong untuk menjadikan perjalanan pendidikannya sebagai sumber inspirasi sekaligus memiliki daya pengaruh yang positif bagi lingkungan tempat mereka tumbuh.
Menjadi Santri yang Memberi Dampak
Praktik dakwah melalui radio melengkapi berbagai pengalaman pengabdian yang dijalankan santri Thursina IIBS. Mereka juga secara rutin mengajarkan Al-Qur’an di TPQ sekitar Thursina serta menyebarkan nilai-nilai Islam melalui Safari Dakwah ke Jepang, Belanda, dan Tiongkok setiap bulan Ramadan.
Rangkaian pengalaman tersebut memberi santri kesempatan untuk belajar berkomunikasi dengan masyarakat yang beragam. Mereka tidak hanya mempelajari nilai-nilai Islam di ruang kelas, tetapi berlatih menyampaikannya dengan cara yang relevan, santun, dan kontekstual.
Ustaz Syaikul Islam berharap semakin banyak santri yang tumbuh dengan semangat belajar, keberanian berprestasi, dan kemauan memberi manfaat.
“Santri harus semakin banyak memberi manfaat bagi masyarakat, sehingga dampak kebaikannya semakin besar dan dapat dirasakan langsung oleh umat,” tutup Koordinator Kaderisasi Ulama Thursina IIBS. (izz)




