Profile

Ketua II Takmir Masjid Thursina & Academic Advisor
Guru

Formal Education

  • S2 - Universitas Sebelas Maret
    Magister Pendidikan Bahasa Indonesia
    2015 - 2017

Nonformal Education

No data available.

Experience

Career At Thursina
  • Co. Dicipline & Behaviour
    2021 - Present
  • CO. Behavior Security dan Academic Advisor
    2020 - 2021
  • CO. Bullying & Behavior Security dan Homeroom Teacher
    2019 - 2020
  • Homeroom Teacher
    2017 - 2019

Publication

Articles
  • Bukan Cuma Bilang “Sabar”, Begini Cara AA Dampingi Anak yang Terluka
    KEMENAG > KOLOM PENDIDIK
    15 September 2026
    Belajar Memahami Batas Kendali
    Dalam mendampingi siswa, AA mengajak anak memahami gagasan dalam filsafat Stoikisme yang dikenal sebagai dikotomi kendali. Gagasan ini membedakan hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita.

    Kita dapat mengendalikan cara berbicara, pilihan tindakan, usaha belajar, sikap terhadap orang lain, serta keputusan untuk mencari bantuan. Sebaliknya, kita tidak sepenuhnya dapat mengendalikan pendapat, perkataan, atau penilaian orang lain maupun kejadian yang telah berlalu.

    Pemahaman ini bukan berarti anak harus menerima penghinaan atau menganggap perundungan sebagai sesuatu yang wajar. Perundungan tetap harus ditangani dan anak tetap berhak mendapatkan perlindungan.

    Yang perlu dipahami adalah batas kendali: kita tidak harus memasukkan semua perkataan orang lain ke dalam pikiran dan hati.

    Membayangkan Perisai Hati
    AA kemudian mengajak anak membayangkan sebuah perisai. Perisai itu bukan untuk membalas, melainkan untuk menyaring.

    Ketika mendengar kata-kata buruk dari orang lain, anak dapat bertanya kepada dirinya: Apakah perkataan ini benar?Apakah saya perlu mempercayainya? Apa yang bisa saya lakukan? Siapa yang dapat membantu saya?Apakah saya sedang membiarkan perkataan orang lain menguasai ketenangan saya?

    Dengan cara itu, anak belajar bahwa perasaan boleh hadir, tetapi perasaan tidak harus mengendalikan seluruh hidupnya.

    Salah satu sumber kekecewaan adalah jarak antara harapan dan kenyataan. Anak mungkin berharap semua temannya menghargai dirinya, tidak mengejek, dan mampu memahami perasaannya. Harapan itu wajar. Namun, tidak semua orang akan bersikap sesuai harapan.

    AA membantu siswa membedakan antara harapan dan kenyataan. Ia boleh berharap diperlakukan dengan baik, tetapi tidak dapat memaksa semua orang bersikap baik. Ia dapat memilih berbicara dengan santun, tetapi tidak dapat menjamin orang lain akan membalasnya dengan cara yang sama.

    Karena itu, anak diajak untuk tetap berbuat baik tanpa menyerahkan ketenangan hatinya kepada penilaian orang lain.

    Dalam pendidikan Islam, ketangguhan menghadapi ujian bukan berarti menolak rasa sakit. Seorang muslim tetap boleh sedih, menangis, dan meminta pertolongan. Namun, ia juga diajarkan untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah.

    Allah Swt. berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” QS Al-Baqarah: 216.

    Ayat tersebut mengajarkan kerendahan hati dalam menghadapi takdir. Kita tidak selalu mengetahui hikmah di balik suatu peristiwa. Namun, kita dapat memilih untuk tetap berusaha, memperbaiki keadaan, mencari pertolongan, dan mendekatkan diri kepada Allah.

    Bagi anak yang dihina, pemahaman itu dapat menjadi sumber kekuatan: saya tidak harus membalas keburukan dengan keburukan. Saya dapat menjaga diri, mencari bantuan, dan tetap berusaha menjadi pribadi yang baik.

Achievement

  • Sertifikat Pemateri Nasional
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa , Bandung
    2021
  • Piagam Penghargaan Cumlaude
    Universitas Sebelas Maret , Surakarta
    2017
  • Piagam Penghargaan Cumlaude
    Universitas Muhammadiyah Malang , Malang
    2013